Selasa, 30 Desember 2008

Diantara dua pilihan...

Lama menunggu adalah salah satu hal yang paling membosankan. Itulah yang kurasakan saat berkali kali meng-apply lamaran ke Txxxxxxxl, perusahaan yang sejak lama ingin kubergabung bergabung di dalamnya. Terhitung sudah lebih dari 6 bulan sejak applying pertama hingga saat ini, namun tak pernah satu kali pun kuterima panggilan untuk mengikuti testnya. Hingga akhirnya Telkom membuka program rekruitasinya, aku pun tanpa pikir panjang langsung mendaftarkan diri. Kurang lebih 3 bulan sejak pembukaan rekruitasi hingga pengumuman kelulusan, dan akhirnya aku pun diterima menjadi calon pegawai PT Telkom, dan diwajibkan mengikiti Orientasi selama 3 minggu. Kedua orangtua ku merupakan faktor utamaku mengikuti rekruitasi Telkom ini, walau sebenarnya dalam benakku pekerjaanku yang sebelumnya sangat cukup untuk dijalankan sebagai batu loncatan sambil menunggu panggilan dari Txxxxxxxl.

Lalu kemudian hal yang tidak kuinginkan untuk terjadi benar-benar terjadi, satu pekan sebelum berakhirnya masa orientasi calon pegawai PT Telkom itu berakhir, sebuah sms masuk ke dalam hape ku… “Undangan Psikotest Txxxxxxxl. Bla blabla…..”. Kontan diri ini pun kemudian menjadi gundah, perusahaan yang selama ini kudambakan memberikanku undangan untuk mengikuti test rekruitasinya!!! Namun kenapa baru sekarang? Kenapa disaat aku telah mengikat komitmenku dengan perusaan dambaan kedua ku? Kegundahanku semakin bertambah ketika mengetahui kalau aku akan di tempatkan nan jauh diluar jawa, di Pontianak!!! Dan lagi di divisi yang bukan divisi favoritku di Telkom…

Kegundahanku ini pun kemudiian ku komunikasikan dengan beberapa sahabat, saudara, dan tentu saja orang tuaku. Beberapa saran yang kemudian menguatkanku antara lain ketika beberapa orang teman meyakinkanku ”Pontianak itu mah gak terlalu jauh, masih jauhan ke Medan! Apalagi Papua!!”. “Aku juga mulai dari 0 kok di divisi Multimedia, yang penting mau belajar!!”. Perlahan keyakinanku untuk mementapkan langkahku di Telkom mulai tumbuh lagi, hingga akhirnya klimaksnya saat ku berdiskusi dengan kedua orang tuaku.

Rasanya diri ini skakmat ketika ibu ku mengatakan dengan lirih, dan kulihat saat itu matanya berkaca… “ Mamah mantap kamu disitu karena sejak awak kamu ikut test, dalam shalat malam mamah selalu berdoa, “Ya Allah berikan yang terbaik buat anak-anak kami” dan akhirnya kamu diterima.” Sekejap semua argumenku, tentang perbandingan revenue, jumlah pegawai, serta pandanganku tentang potensi kedua perusahaan itu di masa depan runtuh sudah. Bagi ku tak ada yang lebih ijabah dari doa seorang ibu untuk anaknya di tengah malam dalam shalat malamnya… maka sejak saat itu yakinlah diriku ini jalan terbaikku. Terbaik tak melulu diukur dengan materi!!!

Telah kutetapkan pilhanku, tuk mengabdikan profesionalisme ku kepada PT Telkom. Mencoba belajar mengaplikasikan “Committed 2 U” : )

Thanx Mom for everything…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar